PAKUJAJAR UPAYA MENGENTASKAN KEMISKINAN MELALUI AYAM BURAS

oleh : Dadan W. Dhien

Kelompok Pakujajar mampu menarik perhatian berbagai pihak masyarakat, instansi hingga Komisi VII DPR RI pernah mengunjunginya. Berbagai prestasi pernah  diraihnya dalam mengembangkan ayam buras

Cover Nostalgia Majalah di kampusku, 1995

Adalah Kelompok Peternak ayam buras, terletak di dusun Kadupugur, Desa Gu­nung Cupu, Kec. Cikoneng Kab DT. II Ciamis. Bermula dari keinginan Bapak Daryo dan beberapa rekannya untuk mengembangbiakan ayam buras untuk mengisi waktu luang di sela-sela bertani. Alasan ini logis, mengingat sehabis pekerjaan di sawah/ ladang masyarakat tidak melakukan aktivitas lagi. A­palagi bila padi sudah lepas penyiangan, maka hari-hari panjang penuh penantian ba­gi petani dan lebih banyak lagi waktu luangnya juga untuk meningkatkan penda­patan perkapita masyarakat.

Awalnya, pemeliharaan dilakukan secara sederhana dan bertahap. Kandang- kan­dang terbuat dari bambu mengisi pekarangan rumah-­rumah anggota. Arah pemeli­haraan tidak ditujukan untuk produksi daging, namun ditujukan untuk mensuplai kebutuhan telur, DOC dan ternak bibit.

Seleksi terhadap bibit diarahkan pada peningkatan produksi telur yang pada maksimal. Oleh karena itu, kelompok ini sangat meng­hindari perkawinan silang yang menghambat produksi telur, seperti blasteran deng­an ayam pelung, ayam bang­kok, ayam kate dll. Seleksi lain untuk ayam buras pete­lur adalah ayam-ayam mam­pu bertelur di atas 14 butir.

Keberhasilan kelompok i­ni dalam mengembangkan usaha ini tak lepas dan cara pemeliharaan. Konsumsi ra­nsum yang diberikan untuk dewasa 80 gr/ekor/hari de­ngan perbandingan layar : dedak adalah 1:3 untuk kandang battere, dan 1:5 untuk kandang ren. Untuk dara  60 gr/ekor/hari dengan ratio (grower:dedak = 1:3) dan anak ayam 20 gr/ekor/ hari starter penuh. Selain itu pem­berian hijauan 10-20% dan pakan yang diberikan dan pemberian lancang (kerang) kira-kira 10% setelah ber­produksi.

Untuk mengatasi wabah penyakit tetelo, lebih di­tekankan pada pencegahan dengan vaksinasi berkala. Pola 4-4-4 diterapkan ke­lompok ini. “Daripada rugi 20 ekor mati semua, saya sarankan agar menjual 1-2 ekor anak ayam untuk beli vaksin”, ujar Daryo S kepada Interest. Selanjutnya menje­laskan perlunya  vaksinasi, meskipun ayam kurang dari 100 ekor. Caranya  anggota bergabung, sehingga vaksin tidak terbuang percuma.

Produksi telur mendapat prioritas tujuan produksinya baik telur tetas maupun telur konsumsi. Berbeda dengan ayam ras, ayam buras masa bertelur pendek dan sifat mengeramnya tinggi. Perla­kuan yang dilakukan di Pakujajar yaitu dengan me­mandikan dan menjemur kira-kira 2 hari. Setelah itu dimasukan kandang ren bersama-sama pejantan un­tuk merangsang aktifitas hormonal. Ayam dapat bertelur kembali pada 5-10 hari dengan ransum yang ba­ik.

Efiensi produksi akan sangat tergantung pada kon­versi makanan dan biaya -biaya produksi lainnya. Bi­aya produksi perhari Rp.40/ ekor. Untuk ayam yang bertelur 2-3 hari sekali masih dipertahankan walaupun ke­untungan relatif kecil.

InteresT, Majalah Fakultas Peternakan, Unpad, Edisi 04/1995

Liputan ini dilakukan sepulang Napak Tilas Rute Tentara Pelajar Banjarnegara-Puwokerto, 1995, data artikel hasil scan Sdr. Wisnu.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sekaligus Mengawini 800 Betina

oleh: Dadan Wahyudin

(Artikel ini dimuat di majalah Intisari – Gramedia – Edisi September 2002 hal 98-104

OLIVIA II mampu mengawini 800 ekor betina dalam sekali ejakulasi. Nama boleh feminim, tapi inilah sapi pejantan super bangsa Ongole di Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang yang dipelihara bersama pejantan lainnya seperti: Orlando, Badranaya, Hackett, Tedong Bona, dan juga Hunter. Mereka memang dipelihara untuk memperbaiki mutu genetik sapi di pelosok Nusantara.

Sapi dan kerbau di BIB Lembang, Jawa Barat merupakan para pejantan unggul yang terpilih melalui seleksi ketat. Mereka berasal dari segala penjuru Nusantara, seperti: NTT, Sulsel, Sumut, Bali, Jateng, Jatim, Jabar bahkan sebagian lagi sengaja didatangkan dari Belanda, Kanada, Australia dan Selandia Baru.

Begitu terpilih, mereka memiliki acara dan kegiatan rutin yang ketat bak di asrama. Misal, setiap pagi dimandikan sementara kandangnya dibersihkan oleh petugas. Sebelumnya mereka menikmati menu sarapan pagi berupa konsentrat sebanyak 5 kg per ekor. Usai mandi, sudah tersedia cacahan rumput gajah segar. Sekitar pukul 14.00, mereka santap siang lagi.

Pengambilan semen dengan AV

Seminggu sekali seusai diambil semennya (semen = sperma plus cairannya), untuk memulihkan kondisi agar selalu prima, pejantan menikmati tinggal di alam bebas selama sehari semalam di lintasan kabel yang disebut line-bull. Di padang rumput mereka memperoleh ruang gerak leluasa, sinar matahari penuh dan rumput afrika secara tak terbatas. Secara berkala, mereka mendapatkan layanan kesehatan berupa vaksinasi, timbang badan, pemberian hormon dan vitamin, pemotongan kuku dan tanduk, pemberantasan ektoparasit, dsb.

Dibalik performa tubuh tegap dan gagah, kualitas sperma memegang peranan penting untuk meraih kelayakan sebagai penyandang predikat superbull. Selain berpostur menawan, para pejantan berbobot 800 -1.350 kg ini juga memiliki kualitas sperma berkualitas prima sehingga layak disebut pejantan super negeri ini. Sperma mereka itulah yang kelak akan memperbaiki keturunan ternak sapi di seluruh Nusantara lewat program inseminasi buatan (IB).

Tertipu vagina buatan

Suhu udara kota kecil Lembang di kawasan Bandung Utara cukup menggigil di pagi hari. Usai mandi sesuai jadwal tertera, para pejantan siap diambil semennya, yang biasanya dilakukan seminggu sekali.

Semen pejantan ditampung dengan menggunakan vagina buatan (artificial vagina/AV) yang dibuat menyerupai kondisi aslinya. Vagina buatan berupa selongsong karet bagian dalam (inner liner) yang dimasukan dalam silinder tebal. Tabung sperma ditautkan pada ujung corong karet itu. Air hangat bersuhu 40-48 derajat celcius dimasukkan pada lubang ventilasi. Kemudian tekanan diatur dan so pasti ditambahkan pelicin berupa vaselin. Vagina buatan pun siap digunakan untuk mengelabui para pejantan dan merupakan simulasi sempurna dari perkawinan alam.

Untuk memnacing birahi si penjantan hingga mengeluarkan semennya, biasanya digunakan teaser (hewan pemancing). Uniknya di BIB Lembang, teaser bukanlah sapi betina tapi sapi jantan juga. Dengan tangan siap memegang vagina buatan, petugas penampung semen harus sabar menunggu pejantan ereksi dan menaiki teaser. Juga mesti hati-hati agar tidak ditanduk. Begitu si pejantan benar-benar libidonya meningkat dan bersemangat menaiki teaser, praeputium (kulup) segera digenggam dan ujung penis dimasukkan ke dalam vagina buatan. Dalam waktu relatif singkat, semen pejantan pun menyembur dan tertampung dalam tabung penampung semen. Sial, betul mereka. Pagi-pagi sudah tertipu dua kali.

Pengolahan semen

Semen yang sudah ditampung kemudian dibawa ke laboratorium. Soalnya, sperma yang ada dalam semen itu cukup sensitif terhadap sinar matahari, goncangan atau perubahan suhu ekstrim. Pemeriksaan pertama secara makroskopik dilakukan meliputi bau, volume, dan derajat kekentalan. Diteruskan dengan uji mikroskopik meliputi gerakan massa, motilitas dan konsentrasi (jumlah) sperma.

Selanjutnya semen yang memenuhi syarat (baca pula : Sperma dalam Angka) diencerkan dengan bahan pengencer. Penambahan pengencer diharapkan mampu menambah volume, menyediakan nutrisi untuk spermatozoa, melindungi dari kejutan dingin (coldshock) juga sekaligus bisa mencegah pertumbuhan kuman. Karena sperma dalam cairan semen cukup peka terhadap perubahan suhu, jika suhu diturunkan drastis, mereka akan mengalami shock dan berujung kematian.

Proses Pengenceran Semen

Di Laboratorium BIB Lembang, semen dicampur dengan Part A primer yang disiapkan dalam water jacket dengan temperatur 37 derajat celcius dan disimpan dalam lemari inkubator (minimal satu jam sebelum dicampurkan). Setelah dicampurkan, semen disimpan dalam cold top bersuhu 4-5 derajat celcius selama 35 menit sambil menurunkan suhu semen secara perlahan-lahan kemudian bila suhu telah sama segera lepas dari water jacket.

Setelah 50 menit dicampurkan lagi dengan Part A ekstra. Pencampuran dengan Part B (gliserolisasi) dilakukan secara bertahap sebanyak empat kali, masing-masing 1/4 dengan selang waktu 15 menit di dalam cold top. Tiga jam setelah pencampuran dengan Part B selesai (atau lima jam dari Part A), semen diisikan ke dalam kemasan straw (seperti jerami plastik) dengan menggunakan alat Filling and Sealing Machine.

Semen dibekukan

Begitu dibekukan, semen dapat tahan hidup lama dan bisa didistribusikan tanpa terhambat oleh jarak dan waktu. Sperma dalam straw kemudian disimpan dalam rak dan dihitung. Secara perlahan suhu diturunkan dengan mengangin-anginkan straw pada suhu minus 110-120 derajat celcius selama 9 menit. Untuk mendapatkan suhu serendah itu, rak straw ditempatkan 4 cm di atas permukaan Nitrogen cair. Selanjutnya dibekukan dengan cara dibenamkan dalam storage container bersuhu minus 196 derajat celcius untuk pemakaian dalam waktu tidak terbatas.

Semen beku disimpan dalam storage container yang didalamnya terdapat 78 canister (semacam kaleng kecil). Tiap canister terdiri atas tiga goblet (semacam gelas) dan setiap goblet berisi 550-750 straw. Dengan demikian, setiap storage container mampu menampung 150.000 dosis straw mini dalam rendaman 210 liter Nitrogen cair. Untuk memudahkan pencatatan, masing-masing canister diberi nomor untuk lokasi. Sedangkan identitas breed pejantan dibedakan berdasarkan warna straw.

Untuk mengetahui kelayakan semen beku, sebelum berlangsung IB dilakukan pemeriksaan kualitas semen beku. DI BIB Lembang digunakan dua macam tes, yakni after thawing test (uji setelah pencairan kembali dengan air hangat selama 15 detik) dan water incubator test (menyimpan semen dalam akuabides dengan suhu 37 derajat celcius selam 4-7 jam yag merupakan asumsi waktu tempuh sperma menuju ovum).

IB harus tepat waktu

Namun, semen beku dari para superbull yang didistribusikan ke segala penjuru Nusantara tidak akan berarti apa-apa

BIB_Lembang

jika fase akhir prosedur inseminasi tidak diterapkan semestinya. Inseminasi buatan merupakan teknik perkawinan dengan menggunakan alat berupa pipet atau insemination gun. Semen harus dideposisikan atau diinseminasikan pada saluran kelamin betina pada tempat dan waktu terbaik sehingga memungkinkan terjadi pertemuan antara sperma dan ovum sehingga berlangsung proses pembuahan.

Ukuran keunggulan pejantan atau keberhasilan IB pada umumnya ditandai dengan tingginya angka konsepsi (kebuntingan hasil inseminasi pertama) dan Non return Rate/NR (persentase hewan tidak kembali minta kawin) juga Service per Conception (S/C) atau jumlah inseminasi per kebuntingan, dsb. Faktor pejantan, prosesing semen beku, kondisi sapi betina, inseminator, cuaca ataupun pakan kerap kali berpengaruh terhadap keberhasilan IB. Sederhananya, Pak Amat sebagai peternak dituntut jeli mendeteksi tanda-tanda birahi (estrus) sapi betina miliknya. Bila ia terlambat melapor ke petugas inseminator, maka mesti menunggu periode estrus mendatang untuk bisa di-IB. Juga kekurangcakapan inseminator menguasai teknik inseminasi akan mengurangi keberhasilan program ini.

Keberhasilan itu bisa ditunjukkan dengan terlahirnya anak sapi bergenetik unggul padahal induknya sapi lokal. Maka mereka yang telah mewariskan sifat-sifat unggul itu pun pantas menyandang penjantan tangguh. (Dadan Wahyudin, di Bandung)

Inboks: Sekaligus Mengawini 800 Betina (MajalahIntisari – Edisi September 2002 hal 101)

SPERMA DALAM ANGKA

Seekor sapi jantan dalam sekali ejakulasi menghasilkan semen 5 – 8 ml dengan konsentrasi 1 satu miliar hingga 5,8 miliar sel sperma. Jumlah rata-rata sperma per ejakulat 4,8 miliar sel dengan sperma motil (agresif) berkisar 65%. Standar minimum bagi kualitas semen yang bisa diproses untuk IB minimal mengandung 500 juta sel per ml dan 50% sperma hidup dan motil. Setiap ml untuk pemakaian IB (dosis IB) harus mengandung sedikitnya lima juta sel sperma hidup dan motil.

Sedangkan untuk semen beku, karena 50% sperma mati gara-gara proses pembekuan, maka dosis IB sapi paling sedikitnya harus mengandung 12 juta sel sperma.
Sebagai contoh, pejantan Olivia II menghasilkan 5 ml semen per ejakulat dengan nilai D/+++/80 p. Perhitungan pengencerannya: 1 ml semen mengandung (80/100) x 1 miliar atau 800 juta sel sperma motil. Kadar pengencerannya sama dengan jumlah sel sperma dibagi dosis IB berarti 800 juta sel dibagi 5 juta sel = 160 dosis IB. Semen sapi Olivia II dengan volume 5 ml dapat diencerkan 5 x 160 = 800 dosis untuk menginseminasi 800 ekor sapi betina.

Sementara dosis IB mengunakan semen beku sapi yakni 12 juta sel sperma. Kadar pengencerannya: 800 juta sel dibagi 12 juta sel =66,67. Untuk 5 ml berarti 5 x 66,7 = 333 straw untuk menginseminasi 333 sapi betina dengan semen beku.

Namun perlu diingat, sekian miliar sel hidup dan motil itu berkompetisi menembus berbagai rintangan dan alangan, hingga akhirnya hanya satu sel sperma yang mencapai ovum (sel telur) sehingga terjadi fertilisasi. Sedangkan sisanya jutaan atau miliaran sel sperma itu mati sia-sia. (Dadan Wahyudin, di Bandung)

Diposkan oleh Dadan Wahyudin di 19:57
Posted in Uncategorized | 1 Comment

Forum : Asyiknya Menaksir Hewan Kurban


OLEH: DADAN WAHYUDIN

(pernah dimuat di Kompas Lembar Jawa Barat, Jum’at 5 Desember 2008 hal K)

Jual-beli hewan kurban pada praktiknya lebih banyak dilakukan dengan cara ditaksir. Calon konsumen cukup menilik (memeriksa) dengan cara mengamati secara visual performa hewan kurban dan ketika dirasa cocok, transaksi pun jadi.

Untuk mendapatkan hewan kurban ideal yakni gagah, sehat, cukup umur dan memiliki bobot yang diinginkan harus dilakukan melalui pemeriksaan fisik (antemortem) secara detail. Begitu pula untuk memastikan secara akurat berat badan atau umur ternak diperlukan timbangan ternak dan kartu catatan riwayat hidup ternak (recording) mirip akta kelahiran.

Akan tetapi, mengharapkan semua hal di atas pada pedagang hewan kurban di pinggir jalan sesuatu yang hampir mustahil. Timbangan hewan cukup berat dan mahal, biasanya dimiliki perusahaan peternakan besar. Sementara peternak kita belum terbiasa melakukan pencatatan (recording) terhadap ternak miliknya, sehingga umur ternak sulit diketahui.

Namun, kita tak perlu pesimis. Teknik menaksir ternak biasa dilakukan oleh para blantik dan diuji-cobakan para peneliti ternyata memberikan hasil mendekati kondisi hewan sebenarnya. Dengan cara menaksir, kondisi fisik, bobot badan, maupun umur hewan kurban dapat segera diketahui sebagai syarat sah ibadah kurban.

Pada hakikatnya, begitu kita tiba di lokasi penjualan hewan kurban, kita sudah dihadapkan pada proses menaksir, yakni melihat, mengamati, dan memeriksa kondisi fisik hewan kurban secara visual. Agar pemeriksaan lebih objektif, si pemeriksa harus berada sekitar 1-2 meter dari objek. Hewan harus ditempatkan di tempat rata. Bila berada di lokasi lebih tinggi dari si pemeriksa akan berkesan lebih besar. Sebaliknya tampak lebih kecil bila ditempatkan di tanah lebih rendah.

Dengan pengamatan visual saja, hewan kurban sudah bisa dilihat dari segi kesehatan: sehat, sakit atau cacat. Hewan sehat dicirikan oleh bentuk tubuhnya standar (normal), mata jernih, perangai lincah, nafsu makan baik – dicoba dengan memberi hijauan – dan warna kulit cerah. Sebaliknya gejala hewan sakit dapat diamati tampak lendir pada mata, hidung, atau anus; sorot matanya sayu; kurus karena nafsu makan rendah; dan gerakannya lambat. Hal ini perlu diwaspadai, karena meskipun Indonesia dinyatakan bebas penyakit mulut dan kuku (1986) dan sapi gila (2002), namun belum terbebas dari penyakit zoonosis lainnya yaitu antraks. Beberapa daerah masih menjadi endemik penyakit disebabkan bakteri Bachillus Anthracis ini.

Untuk hewan kurban, Rasulullah SAW melarang hewan cacat. Tanduk pecah, kaki pincang atau telinga putus dapat dilihat secara kasatmata. Sementara hewan dengan kondisi buta dapat dicoba dengan mengibaskan telapak tangan di dekat bola matanya, bila tidak berkedip maka dipastikan buta dan tidak sah untuk hewan kurban.

menaksir berat dan umur

Bila dicermati, penampang tubuh sapi dan domba menyerupai bentuk geometris berupa tabung. Untuk mencari volume tabung harus diketahui luas alas dan tinggi. Dalam hal ini, lingkar dada hewan dapat diasumsikan sebagai luas alas dan panjang badan sebagai tinggi. Lingkar dada diperoleh dengan melingkarkan seutas tali di belakang gumba melalui belakang belikat. Sementara panjang badan diukur dari bahu hingga penonjolan tulang duduk. Dengan memperhatikan volume organ kepala, kaki, ekor, dan massa jenis daging atau jeroan bakal diperoleh pendekatan untuk memperoleh berat hewan sebenarnya.

Melalui berbagai percobaan, Schoorl menemukan rumus untuk mengetahui berat badan dengan cukup mengetahui satu komponen, yakni lingkar dada. Rumus itu dinamai namanya sendiri rumus Schoorl yaitu Bobot Badan (kg) = {lingkar dada (cm) + 22} dikuadratkan dibagi 100. Sementara Scheiffer mengadopsi rumus tabung dengan menampilkan formula, yakni Bobot Badan (lubels) = {lingkar dada (inchi) kuadrat x panjang badan} (inchi) dibagi 300. Rumus ini disesuaikan oleh Lambourne dengan mengonversi ke dalam satuan yang cocok dengan kehidupan masyarakat kita, yakni Bobot Badan (kg) = {lingkar dada (cm) kuadrat x panjang badan (cm)} dibagi 10840.

Sejumlah peneliti mencoba membuktikan keakuratan rumus-rumus itu diuji-cobakan terhadap beberapa kelompok sapi antara bobot taksir dan bobot timbangan. Hasilnya rumus Scheiffer dan Lambourne lebih mendekati berat real sapi sebenarnya dengan tingkat kesalahan di bawah 10 persen. Sedangkan rumus Schoorl tingkat kesalahannya mencapai 22,3 persen. Perbedaan perhitungan berat pada mahluk hidup adalah wajar, karena bobot hewan sangat dipengaruhi situasi dan kondisi lingkungan, yakni gelisah (stress), habis makan, banyak minum atau baru buang feses. Hewan yang ditimbang sekalipun, akibat buruk perlakuan dan pengangkutan dapat menyebabkan susut tubuh 5-10%.

Dengan memperoleh angka taksiran bobot hidup, maka persentase karkas dan daging dapat segera diketahui. Karkas sapi berkisar 47-57 persen dari bobot hidupnya dan daging 75 persen dari karkas. Karkas adalah potongan daging tulang tanpa kepala, kaki, kulit dan jeroan. Untuk domba persentase karkasnya sekitar 45 persen dan dagingnya 75 persen dari karkas. Kalkulasi ini sangat penting untuk dapat memperkirakan jumlah daging dibandingkan jumlah mustahik (penerima daging kurban) juga dapat dijadikan perbandingan harga apakah hewan kurban yang dibeli terlalu mahal atau tidak dibanding harga pasaran.

Satu lagi penting kemampuan menaksir amat penting sebagai syarat sah hewan kurban yaitu menaksir umur. Umur ternak dapat diketahui berdasarkan susunan gigi geliginya. Mintalah si penjual memperlihatkan susunan gigi seri (berada di rahang bawah). Bila gigi seri dewasa telah tumbuh (tampak besar dan kuat seperti kapak, gigi susu kecil-kecil seperti sisir jagung muda), maka hewan dipandang dewasa/cukup umur (musinnah). Pada domba dan kambing perubahan ini terjadi pada umur 1-1,5 tahun dan sapi 2-2,5 tahun.

Kemampuan menaksir ini akan semakin baik dan hasil makin akurat bila sering diasah. Bagi yang sudah mahir seperti blantik atau bakul hewan, kegiatan menaksir hewan cukup ditilik dari atas mobil atau sepeda motornya. Paling banter mereka cukup meraba punggung untuk menentukan gemuk atau kurus. Selain asyik, kegiatan menaksir juga dapat meyakinkan hewan kurban yang dipilih kita sempurna sesuai pokok ketentuan ibadah kurban sehingga dapat melipatgandakan pahala kita di hadapan-Nya. (**)

DADAN WAHYUDIN
PRAKTISI PETERNAKAN

Diposkan oleh Dadan Wahyudin di 00:02
Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Forum: Telaah Aspek “Musinnah” Hewan Kurban



oleh : Dadan Wahyudin
(Sumber:  Kompas Lembar Jawa Barat, 19 Desember 2007)

Musinnah dipandang sebagai hewan yang telah “dewasa” (cukup umur) dan sah dijadikan hewan kurban. Namun, literatur ilmu peternakan mengenal dua istilah “dewasa” dengan sudut pandang berbeda, yaitu dewasa kelamin dan dewasa tubuh. Dewasa kelamin (pubertas) pada hewan biasanya terjadi sebelum dewasa tubuh dicapai.

Pada domba jantan, periode pubertas terjadi pada umur 7-8 bulan dan sapi jantan 9-12 bulan, yaitu ditandai dengan kemampuan berkopulasi dan menghasilkan sperma, selain perubahan-perubahan kelamin sekunder lain. Adapun pubertas sapi betina terjadi pada umur 6-18 bulan dan domba betina 6-12 bulan yang dicerminkan dengan terjadinya gejala birahi (estrus) dan ovulasi.

Sementara istilah “dewasa tubuh” lebih mengacu pada volume pertumbuhan (ukuran tubuh) menuju kesempurnaan organ tubuh. Keduanya menemukan titik temu. Para peneliti menyarankan agar hewan-hewan muda tidak boleh dikawinkan terutama hewan betina muda sampai pertumbuhan badannya memungkinkan suatu kebuntingan dan kelahiran normal. Untuk mencapai hasil memuaskan, sapi dara direkomendasikan untuk dikawinkan pertama kali pada umur 18-24 bulan. Adapun domba tidak boleh dikawinkan sebelum umur 12 bulan. Berdasarkan argumen di atas, tampaknya mussinah hewan kurban cenderung lebih mendekati istilah “dewasa” menurut ukuran tubuh yang dicapai.

Akan tetapi, bagaimana meyakinkan calon pembeli bahwa hewan kurban yang dijual adalah hewan musinnah? Adakah parameter untuk menentukan umur hewan, mengingat pada umumnya hewan yang dijual di pasar hewan tidak disertai kartu catatan identitas hewan? Padahal dengan kartu identitas (recording) setidaknya dapat dijelaskan waktu kelahiran, berat lahir, berat sapih atau pun asal-usul induk. Ini penting untuk mengestimasi umur ataupun aspek produktivitas hewan tersebut.

Teknik menaksir umur hewan yang lumrah dijumpai adalah mengamati susunan gigi geligi hewan. Sama halnya dengan manusia, pergantian gigi dapat menjadi pertanda anak mulai sekolah, yakni umur 6-7 tahun. Hewan musinnah ditandai dengan pergantian gigi susu dengan sepasang gigi seri dewasa. Pergantian ini biasa disimbolkan dengan I (insisivus). Pada kambing dan domba, pertukaran gigi seri pertama (T-1) terjadi pada umur 1-1,5 tahun; diikuti sepasang gigi seri dewasa kedua (I-2) yang bertukar pada umur 1,5-2 tahun; I-3 bertukar pada 2,5-3 tahun dan I-4 bertukar pada umur 3-4 tahun.

Sementara pada sapi, pertukaran gigi I-1 terjadi pada umur berkisar 2 tahun; I-2 bertukar pada umur 2,5 tahun; I-3 bertukar pada tiga tahun dan I-4 bertukar pada umur 4 tahun. Proses perubahan berikutnya adalah pergesekan gigi hingga keausan gigi pertanda umur hewan telah cukup tua.

kebaikan hewan musinnah

Sapi dipotong pada umur muda (3-14 minggu) menghasilkan daging berwarna terang yang biasa dikenal dengan veal. Calf merupakan daging yang diperoleh dari pemotongan pedet (umur 14-52 minggu). Pemotongan hewan yang berumur muda tidak dibenarkan oleh pokok ketentuan syariat ibadah kurban. Secara awam pun maklum, secara kuantitas daging veal dan calf tidaklah memberi manfaat bagi orang banyak.

Potensi produktivitas secara maksimal seekor hewan menjelang umur musinnah sangat mungkin diperoleh. Seusai lepas sapih dari induknya (6-8 bulan), sapi memasuki pertumbuhan emas (golden growth). Fenomena ini dilirik perusahaan peternakan sapi dengan usaha penggemukan sapi bakalan (dry lot fattening). Dengan proses penggemukan sapi, dalam waktu relatif singkat dihasilkan sapi siap potong. Bayangkan sapi bakalan Australian Commercial Cross (ACC) yang berat awalnya sekitar 200-300 kg dengan pertambahan berat badan 0,8 kg/ekor/hari, dalam waktu tiga bulan mencapai bobot 250-400 kg.

Tingginya nilai ekonomis ini didapat karena hewan muda mampu mengonversi ransum sangat efisien. Volume pakan minimal (belum begitu banyak) efektif diserap tubuh untuk dikonversi dalam penambahan bobot badan. Oleh karena itu, pemeliharaan sapi jantan terus-menerus tanpa maksud tertentu, baik untuk pejantan maupun tenaga, akan merugikan sebab konversi pakan menjadi tidak seimbang. Hal itu ditandai dengan kenyataan bahwa sapi dewasa butuh pakan dalam volume besar, tetapi bobot badan cenderung konstan dan kualitas daging makin lama makin keras dan kasar.

Esensi pemotongan hewan musinnah memberi sesuatu yang istimewa bagi umat manusia. Selain perolehan kuantitas daging, hewan mussinah memberikan kualitas daging terbaik untuk konsumsi manusia. Daging disusun oleh komponen utama, yaitu jaringan otot (muscle tissue), jaringan lemak (adipose tissue), dan jaringan ikat (connective tissue). Daging hewan musinnah memiliki kandungan lemak intraselular optimal di dalam serabut-serabut otot (marbling) yang menjadikannya berasa lebih empuk, berasa kuat dan memiliki cita rasa tinggi. Itulah konsumsi istimewa. Sang Pencipta, melalui kesalehan hamba-Nya, memberikan daging pilihan, teruji, dan berkualitas kepada umat manusia.

Daging hewan yang dipotong pada usia tua cenderung berkualitas buruk, keras (alot) dan berlemak tinggi. Daging alot tidak nikmat untuk disantap. Sementara lemak jenuh tinggi berbahaya bagi kesehatan. Konsumsi makanan dengan lemak jenuh tinggi justru memicu kegemukan dan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Meskipun diperlukan manusia untuk metabolisme tubuh dan secara alami telah diproduksi hati, kolesterol berpotensi menyumbat pembuluh darah dan berisiko tinggi penyebab penyakit jantung koroner atau stroke bila dikonsumsi berlebihan.

melindungi berbagai kepentingan

Pokok ketentuan aspek musinnah hewan kurban dengan bahasa singkat dan padat tetapi memiliki makna filosofis luas dan mampu melindungi berbagai kepentingan. Manusia memperoleh daging sebagai sumber pangan bergizi, sehat dan berkualitas. Aspek musinnah pun mampu melindungi populasi hewan kurban secara futuristik. Dalam prosesi ibadah kurban, anak dan induk tidak termasuk kriteria hewan kurban yang boleh dipotong.

Dengan demikian, proses regenerasi hewan kurban tidak terhambat sehingga Idul Adha di tahun depan, dengan selisih satu tahun, bakal diperoleh hewan-hewan musinnah baru yang sekarang belum masuk kriteria. Proteksi terhadap induk hewan membuat induk tersebut leluasa melahirkan generasi selanjutnya.

Aspek musinnah ibadah kurban pun memberi pembelajaran, yaitu mencegah kerakusan dan ketamakan manusia dalam mengeksploitasi hewan (baca: alam) secara berlebihan. Nilai-nilai kearifan makna musinnah hewan kurban dapat menjadi refleksi, inspirasi dan landasan perilaku bagi manusia, terutama pengambil kebijakan, agar bijaksana dalam menjaga keseimbangan lingkungan sehingga alam pun memberi segala manfaat dan lestari.

Penulis, Dadan Wahyudin
Praktisi Peternakan

Diposkan oleh Dadan Wahyudin di 18:45
Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Forum :Kearifan Ibadah Kurban

oleh:  Dadan Wahyudin

(dimuat di Kompas, Lembar Jawa Barat, 29 Desember 2006)

Momentum hari raya Idul Adha (10 Zulhijah) mengandung banyak nilai dan pelajaran yang hikmahnya bisa dipetik untuk kemaslahatan hidup umat manusia. Ditinjau dari perspektif bidang peternakan, pelaksanaan Ibadah Kurban memberi pengaruh signifikan terhadap aspek ekonomi dan spirit budidaya hewan kurban di kalangan peternak.

Domba, salah satu hewan kurban

sapi, hewan kurban

Sementara itu, persyaratan maksimal terhadap hewan kurban, hakikatnya merupakan jaminan proteksi bagi umat manusia untuk mengonsumsi produk daging yang layak, aman, berkualitas, dan sebagai perlindungan bagi pelestarian hewan kurban di masa depan. Dalam hubungan vertikal (hablum minallah), kesempurnaan kurban merupakan bentuk ubudiah persembahan seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Perintah kurban bermula tatkala Allah SWT memberikan titah kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putra tercintanya Nabi Ismail AS. Itu merupakan suatu pengorbanan luar biasa. Sebab, Nabi Ismail merupakan anak yang didambakan sejak puluhan tahun, tetapi tiba-tiba harus dijadikan kurban, dan nyawa sang anak harus direnggut melalui tangan ayah sendiri.

Rezeki bagi peternak

Sesuai tradisi menjelang Idul Adha, peternak bakal kebanjiran order. Adalah kemurahan Allah bahwa hewan yang lazim dipakai kurban oleh masyarakat adalah hewan hasil budidaya kalangan peternak kecil dalam skala keluarga di pedesaan. Sangat jarang sapi-sapi impor skala perusahaan, seperti sapi efha, simental, angus, hereford, atau australian commercial cross (ACC) digunakan sebagai kurban. Masyarakat lebih menyukai sapi-sapi lokal, seperti sapi onggol, sapi bali, dan sapi madura.

Momentum Idul Adha mampu menciptakan geliat perekonomian hingga ke pelosok daerah. Tidak hanya para belantik atau bakul hewan yang ingar-bingar turun ke kampung-kampung. Kini juga banyak konsumen yang berburu hewan kurban langsung ke lokasi peternak.

Persaingan ini membawa keuntungan bagi peternak dengan disparitas harga mencolok yang berbeda ketika harga ditentukan tengkulak. Adanya nilai surplus secara ekonomi (fee) adalah bentuk kemurahan rezeki-Nya bagi kalangan keluarga peternak sekaligus insentif yang menarik minat untuk melakukan budidaya lebih intensif.

Dalam kacamata peternakan modern, hewan betina dianggap hewan produktif sebagai “mesin uang harian” peternak. Sebaliknya, hewan jantan memiliki fungsi terbatas, yaitu sebagai produk daging atau tenaga. Selebihnya, khusus hewan jantan unggul digunakan sebagai pemacek, terkait proses reproduksi untuk mempertahankan kelangsungan generasinya.

Padahal, secara alamiah persentase kemungkinan lahir (natalitas) individu jantan dan betina berpeluang sama besar (50:50). Akan tetapi, adanya seleksi dan pembatasan jumlah pejantan dengan penerapan sex ratio (perbandingan jumlah hewan jantan dan betina dalam suatu pembibitan) mengakibatkan tingginya apkir hewan jantan. Popularitas hewan jantan makin tereduksi manakala bioteknologi, seperti inseminasi buatan dan embrio transfer, mulai diimplementasikan di tingkat peternak. Bahkan, teknologi reproduksi kloning mengesampingkan penggunaan pejantan sama sekali.

Penggunaan hewan jantan dalam ritual Ibadah Kurban bukan saja diperintahkan dalam syariat, melainkan didukung juga oleh kajian ilmiah dengan argumentasi yang kuat dan memiliki nilai strategis dalam menjaga kelestarian populasi hewan kurban.

Sebuah jawaban dan bukti kearifan yang menjangkau jauh ke depan memberikan pemecahan masalah regenerasi hewan kurban di masa depan. Andai saja hewan betina yang dijadikan hewan kurban, populasi unta, sapi, domba, atau kambing dalam hitungan dua-tiga tahun bakal punah.

Hal yang menjadi kendala di lapangan adalah tak lazim, peternak kita memiliki kartu catatan identitas (recording) ternak, seperti tanggal kelahiran, berat lahir, berat sapih, maupun asal-usul induk sehingga bisa saja umur dikelirukan. Namun, kita jangan dulu pesimistis. Sebuah teknik menaksir umur ternak banyak dipakai masyarakat, yaitu dengan melihat susunan gigi geligi yang mendekati keakuratan. Hewan umur musinnah ditandai digantikannya gigi susu dengan sepasang gigi seri dewasa (insisivus).

Penetapan ketentuan umur musinnah dalam kajian bidang peternakan memiliki beberapa aspek menguntungkan meliputi:

1. Aspek produktif. Adanya proteksi hewan pra-musinnah beralasan karena hewan sedang pada tahap akselerasi pertumbuhan (high-growth) sehingga sangat produktif serta efisien mengonversi pakan ke dalam penambahan bobot badan. Adapun pasca-musinnah angka konversi menjadi kurang efektif karena berat badan cenderung konstan dikarenakan proses selanjutnya berupa pematangan organ-organ (maturity).

2. Aspek kualitatif. Fase ini merupakan fase daging berkualitas prima, empuk, serat daging tersebar merata, tidak berlemak, serta warna segar (fresh): sebuah konsumsi istimewa bagi orang yang seleranya selalu menginginkan hal terbaik. Berbeda dengan daging cempe atau pedet yang berserat, lembek, berlendir, dan berbau anyir. Daging hewan tua bakal alot, keras, dan berkadar lemak tinggi.

3. Aspek normatif. Ibadah Kurban mengajarkan sebuah eksploitasi beretika dan tanggung jawab. Dengan pemotongan umur tertentu, anak-anak hewan kurban terlindungi dari eksploitasi berlebihan sekaligus mempersiapkan stok kurban tahun berikutnya.

Harus sehat

Performa hewan sehat dapat dikenali melalui ciri-cirinya, yaitu mata jernih, lincah, nafsu makan baik, dan warna kulit tampak cerah. Adapun gejala hewan sakit antara lain tampak lesu dan pucat; tampak lendir pada mata, hidung, kulit, dan anus; kurus karena nafsu makan rendah; gerakannya lambat. Rasulullah SAW melarang para sahabat untuk menyembelih hewan kurban sakit atau memiliki cacat tubuh, seperti tanduknya pecah, telinga sobek melebihi separuh, mata buta, atau dengan kata lain hewan kurban harus sempurna.

Dari segi kesehatan, hewan kurban harus terbebas dari penyakit berbahaya bagi manusia (zoonosis). Penyakit yang tidak ditoleransi untuk dikonsumsi antara lain adalah apthae epizootical (PMK), bovine spongiform enchephalophaty (sapi gila), dan antraks. Pesan itu mengingatkan kalangan peternak untuk senantiasa memelihara kebersihan dan sanitasi kandang, pencegahan penyakit (vaksinasi), pemberian pakan berimbang, dan tata laksana pemeliharaan yang sehat.

Ibadah Kurban telah mengajarkan dengan gamblang segala kearifan dan sikap bijak perihal eksploitasi hewan kurban secara beretika. Dengan kearifan pula, pemotongan hewan kurban, berapa pun jumlahnya, tak akan membuat punah spesies ini dari muka Bumi.

Ketersediaan stok tahun berikutnya tak terpengaruh sedikit pun oleh banyaknya hewan kurban yang disembelih. Mengapa? Sebab, untuk hewan kurban ada proteksi berupa larangan terhadap eksploitasi induk dan anak hewan belum cukup umur sehingga proses regenerasi tidak pernah terganggu.

Hal tersebut dapat menyadarkan kita akan pentingnya keserasian hubungan antara manusia dan lingkungan yang harus senantiasa terjaga dalam keseimbangan. Berkaca dari segala kearifan tersebut, kita bisa memetik pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya memanfaatkan sumber daya alam secara proporsional dengan memerhatikan kelestarian lingkungan untuk kemakmuran umat manusia.

DADAN WAHYUDIN Praktisi Peternakan

Diposkan oleh Dadan Wahyudin di 21:17

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Forum : Idul Kurban, Konservasi Sempurna

Rabu, 25 November 2009

Oleh DADAN WAHYUDIN

Mati satu tumbuh seribu,
Induk mati, hilang seribu

(Pepatah kedua dibuat penulis untuk menggambarkan secara gamblang tentang prinsip-prinsip konservasi dalam ritual Idul Kurban)

Sejatinya, alam semesta berjalan teratur sesuai hukum Sang Pencipta. Kelahiran dan kematian makhluk hidup yang silih berganti adalah fenomena lumrah. Antara makhluk hidup dan lingkungan pun terjalin kerja sama ya

Ketersediaan sapi sepanjang tahun

ng saling membutuhkan dan melengkapi sehingga terbina harmoni. Sayangnya, keseimbangan itu terusik tatkala manusia terlibat di dalamnya. Sifat rakus manusia (greedy) tanpa terkendali telah berbuah kerusakan alam dan punahnya spesies tertentu.

Idul Kurban telah lama mengajarkan prinsip-prinsip konservasi, yakni ajaran bagaimana memanfaatkan sumber daya alam secara proporsional tanpa disertai perusakan. Ajaran penuh kearifan dan kebijakan menjangkau jauh ke depan (futuristik) dengan memerhatikan dan terus berbagi manfaat dengan generasi mendatang. Prinsip-prinsip itu juga diyakini telah melindungi eksistensi hewan kurban turun-temurun, dari zaman para nabi hingga kini.

Aspek reproduksi

Hewan betina tidak termasuk kriteria untuk hewan kurban. Pemotongan sapi atau domba betina produktif secara signifikan bakal menguras drastis populasi ternak potong di suatu daerah. Dalam usaha peternakan, hewan betina dijuluki “mesin uang” produktif. Pada unggas petelur, induk dapat memproduksi telur konsumsi setiap hari. Sementara ternak perah, selain menghasilkan anak, juga memproduksi susu setiap pagi dan sore sebagai pendapatan peternak.

Hewan betina merupakan mata rantai strategis dalam mempertahankan populasi. Kematian satu induk berimplikasi putusnya silsilah keturunan berikutnya. Produktivitas hewan betina dapat tecermin pada ilustrasi berikut ini. Seekor domba betina mencapai usia dewasa dan dikawinkan pertama kali pada umur 10-12 bulan. Pada tahun kedua, induk akan melahirkan setelah melewati masa kebuntingan selama 147 hari.

Tiga bulan kemudian anak domba disapih dan induk siap dikawinkan lagi. Itu berarti dalam dua tahun, induk beranak tiga kali. Jika angka litter-size (rata-rata anak per kelahiran) 1,67, selama enam tahun (masa produktif induk domba) bakal diperoleh 15 ekor anak. Populasi ini bakal berlipat ganda manakala anak betina yang dilahirkan pertama (asumsi kelahiran jantan dan betina 50 persen : 50 persen) pada tahun ketiga telah menjadi induk. Begitu pun anak betina dilahirkan pada tahun ketiga, keempat, dan seterusnya segera menjadi induk dan beranak pinak. Luar biasa!

Fenomena tersebut menginspirasi pokok-pokok pembangunan dan konservasi di bidang peternakan. Upaya melindungi induk produktif diadopsi dalam Staat Blaad tahun 1920 dan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan. Namun, pemerintah perlu lebih intensif melakukan sosialisasi kepada peternak dan melakukan pengawasan terhadap rumah potong hewan (RPH). Langkah antisipatif ditempuh, yakni mengembalikan atau membeli induk masih produktif yang dijumpai di RPH untuk dikembangbiakkan kembali. Adapun rencana ekspor bibit sapi bali ke luar negeri seyogianya ditinjau ulang. Ini dilakukan demi melindungi agar populasi sapi unggulan dalam negeri tetap terjaga.

Kita beralih mencermati fungsi seksual hewan jantan. Pada pembibitan ternak potong normal, perbandingan antara jantan dan betina (sex ratio) adalah 1:5 untuk sapi dan 1:10 untuk domba. Satu sapi jantan diberi tugas melayani lima ekor betina. Maka, dipastikan empat ekor jantan lain terkena apkir. Begitu pun pada domba jantan, bakal ada sembilan ekor tersisih.

Fungsi reproduksi hewan jantan semakin tereduksi oleh kehadiran program inseminasi buatan (IB). Pada program IB, perkawinan alami digantikan oleh simulasi perkawinan buatan (artificial) dengan alat berupa pipet (insemination gun). Peternak tidak perlu mengeluarkan ongkos pemeliharaan hewan jantan lagi karena fungsi pemacek telah diambil alih oleh semen beku (frozen semen) bergenetik unggul yang diproduksi balai inseminasi. Hewan jantan pada program embrio-transfer pun benar-benar pejantan unggul hasil seleksi. Bahkan, fertilisasi teknologi kloning, seperti kasus domba Dolly, ternyata mengesampingkan fungsi sel gamet jantan sama sekali.

Tingginya hewan jantan apkir secara reproduksi mengakibatkan orientasi pemeliharaannya lebih difokuskan sebagai penghasil daging. Yang memenuhi pokok ketentuan syara’ dijadikan hewan kurban. Ini terkait erat perintah Rasulullah SAW bahwa hewan kurban disyariatkan berkelamin jantan bukan betina.

Berkesinambungan

Adanya batasan aspek umur (musinnah) memiliki signifikansi dalam menjaga kelestarian populasi hewan kurban. Dalam riwayat Muslim, dari Jabir bersabda Rasulullah SAW, “Jangan kamu menyembelih untuk kurban, melainkan musinnah (telah tanggal gigi) kecuali jika sukar didapat, sembelihlah jadz’ah (berumur 8-9 bulan) dari kambing/domba.”

Pengertian musinnah mengacu pada istilah dewasa tubuh, yang pada hakikatnya memberi kesempatan hewan muda tumbuh secara optimal sehingga memiliki kuantitas dan kualitas daging terbaik. Keistimewaan performa ini sangat bermakna bagi hamba dalam menyempurnakan ibadah kurbannya.

Eksploitasi ternak dalam ibadah kurban sungguh berbeda dibandingkan dengan pemotongan yang sama oleh penjual sate atau konsumsi biasa. Eksploitasi ternak untuk daging konsumsi memungkinkan menggerus ternak berbagai kelompok umur, jenis kelamin, dan aneka kondisi. Mereka tidak peduli umur ternak apakah pedet atau cempe; kondisi sehat, sakit, atau cacat; juga berkelamin jantan atau betina. Bisa dibayangkan ketika kebutuhan konsumsi memuncak, eksploitasi besar-besar tidak terelakkan. Jika tidak diimbangi revolusi pembibitan (breeding) memadai, dapat dipastikan populasi ternak binasa dalam waktu singkat.

Namun, Idul Kurban tidak, berapa pun hewan kurban yang dipotong. Kelestarian hewan bakal senantiasa terjaga. Ini berkat adanya proteksi terhadap induk sehingga leluasa berkembang biak.

Pertumbuhan anak-anak hewan kurban tidak terganggu. Di Idul Kurban berikutnya, pedet atau cempe mencapai usia dewasa (musinnah) sekaligus sebagai stok hewan kurban baru.

Begitulah seterusnya. Siklus itu berputar dalam keniscayaan. Perlindungan, rasa nyaman tumbuh-kembang, dan ketersediaan berkesinambungan itulah konservasi yang sempurna!

Penulis, DADAN WAHYUDIN
Praktisi Peternakan

Diposkan oleh Dadan Wahyudin di 16:46 0 komentar

Langgan: Entri (Atom)
Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment