PAKUJAJAR UPAYA MENGENTASKAN KEMISKINAN MELALUI AYAM BURAS

oleh : Dadan W. Dhien

Kelompok Pakujajar mampu menarik perhatian berbagai pihak masyarakat, instansi hingga Komisi VII DPR RI pernah mengunjunginya. Berbagai prestasi pernah  diraihnya dalam mengembangkan ayam buras

Cover Nostalgia Majalah di kampusku, 1995

Adalah Kelompok Peternak ayam buras, terletak di dusun Kadupugur, Desa Gu­nung Cupu, Kec. Cikoneng Kab DT. II Ciamis. Bermula dari keinginan Bapak Daryo dan beberapa rekannya untuk mengembangbiakan ayam buras untuk mengisi waktu luang di sela-sela bertani. Alasan ini logis, mengingat sehabis pekerjaan di sawah/ ladang masyarakat tidak melakukan aktivitas lagi. A­palagi bila padi sudah lepas penyiangan, maka hari-hari panjang penuh penantian ba­gi petani dan lebih banyak lagi waktu luangnya juga untuk meningkatkan penda­patan perkapita masyarakat.

Awalnya, pemeliharaan dilakukan secara sederhana dan bertahap. Kandang- kan­dang terbuat dari bambu mengisi pekarangan rumah-­rumah anggota. Arah pemeli­haraan tidak ditujukan untuk produksi daging, namun ditujukan untuk mensuplai kebutuhan telur, DOC dan ternak bibit.

Seleksi terhadap bibit diarahkan pada peningkatan produksi telur yang pada maksimal. Oleh karena itu, kelompok ini sangat meng­hindari perkawinan silang yang menghambat produksi telur, seperti blasteran deng­an ayam pelung, ayam bang­kok, ayam kate dll. Seleksi lain untuk ayam buras pete­lur adalah ayam-ayam mam­pu bertelur di atas 14 butir.

Keberhasilan kelompok i­ni dalam mengembangkan usaha ini tak lepas dan cara pemeliharaan. Konsumsi ra­nsum yang diberikan untuk dewasa 80 gr/ekor/hari de­ngan perbandingan layar : dedak adalah 1:3 untuk kandang battere, dan 1:5 untuk kandang ren. Untuk dara  60 gr/ekor/hari dengan ratio (grower:dedak = 1:3) dan anak ayam 20 gr/ekor/ hari starter penuh. Selain itu pem­berian hijauan 10-20% dan pakan yang diberikan dan pemberian lancang (kerang) kira-kira 10% setelah ber­produksi.

Untuk mengatasi wabah penyakit tetelo, lebih di­tekankan pada pencegahan dengan vaksinasi berkala. Pola 4-4-4 diterapkan ke­lompok ini. “Daripada rugi 20 ekor mati semua, saya sarankan agar menjual 1-2 ekor anak ayam untuk beli vaksin”, ujar Daryo S kepada Interest. Selanjutnya menje­laskan perlunya  vaksinasi, meskipun ayam kurang dari 100 ekor. Caranya  anggota bergabung, sehingga vaksin tidak terbuang percuma.

Produksi telur mendapat prioritas tujuan produksinya baik telur tetas maupun telur konsumsi. Berbeda dengan ayam ras, ayam buras masa bertelur pendek dan sifat mengeramnya tinggi. Perla­kuan yang dilakukan di Pakujajar yaitu dengan me­mandikan dan menjemur kira-kira 2 hari. Setelah itu dimasukan kandang ren bersama-sama pejantan un­tuk merangsang aktifitas hormonal. Ayam dapat bertelur kembali pada 5-10 hari dengan ransum yang ba­ik.

Efiensi produksi akan sangat tergantung pada kon­versi makanan dan biaya -biaya produksi lainnya. Bi­aya produksi perhari Rp.40/ ekor. Untuk ayam yang bertelur 2-3 hari sekali masih dipertahankan walaupun ke­untungan relatif kecil.

InteresT, Majalah Fakultas Peternakan, Unpad, Edisi 04/1995

Liputan ini dilakukan sepulang Napak Tilas Rute Tentara Pelajar Banjarnegara-Puwokerto, 1995, data artikel hasil scan Sdr. Wisnu.

About dadanwahyudinonline

seorang petualang, mahir peta, kompas, navigasi, dan jurnalis lepas.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s